Iblis Bertopeng Domba Di London


Aku sedang  menyirami bunga tulip yang berada di pekarangan gereja sejak suster menyuruhku sedari pagi. Pagi yang cerah, air yang mengalir deras, dan anak-anak panti asuhan yang bermain dengan riang di tengah riuhnya kota London. Ya, London, sesuatu hal yang sangat besar untuk anak buangan seperti kami yang tinggal ditempat kumuh dan hanya mengandalkan uang bantuan sosial dari gereja yang tak mampu membeli sepuncuk roti yang harganya bak gunung Everest yang menjulang tinggi.

“Hei hei! tolong bacakan ini!”

Aku menghentikan aktivitas menyiramku tatkala aku mendengar suara Judy menghampiriku dengan sebuah buku.

“Ini buku baru pemberian tuan Albert! Ayo kita baca bersama!” semangat Judy

“Iya kak William, tolong bacakan ya!”

“Tolong bacakan kak William!”

    Aku menghela napas. Baiklah, aku akan membacakan buku ini pada teman-temanku, karena di panti asuhan ini, hanya aku dan adikku Louis yang  bisa membaca dan menulis latin. Saat aku asyik membacakan buku pada anak-anak panti asuhan, ekor mata ku menangkap sosok yang tak jarang mampir ke panti asuhan ini. Aku melihat kereta kuda yang memiliki lambang khas keluarga Alexander. Oh, sepertinya tuan Albert sedang berkunjung lagi, ia hanya satu-satunya bangsawan yang mau meluangkan waktu dan tenaganya untuk kegiatan amal untuk kaum seperti kami, tak jarang ia memberikan kami buku, baju, dan makanan yang cukup untuk kami.

“Sepetinya kau menikmati buku yang telah aku berikan William” ucap tuan Albert seraya mendekat ke arah ku.

Aku tersenyum simpul tuk menanggapi. “Terimakasih tuan albert, saya sangat senang ketika anda memberikan kami barang yang tidak sepatutnya kami miliki”

Tuan albert pun tersenyum, tetapi aku menangkap sesuatu dalam matanya yang hendak ia sampaikan kepadaku.

“William, bisakah aku mengunjungimu nanti malam di gereja?” tanya tuan Albert.

Aku mengangguk dengan hormat. Aku tidak keberatan. “Dengan senang hati tuan Albert”

    Aku tiba di gereja panti asuhan dimana William berada, tetapi langkah ku berhenti saat hendak masuk kedalam gereja tatkala aku mendengar suara William dan anak-anak panti asuhan lainnya.

    “Jadi, bangsawan itu orang yang hebat ya?”

    “Iya, nenek moyang mereka bertarung demi memerdekakan negara kita” ujar William.

    “Tapi, ada juga bagsawan yang jahat”

    “Iya, aku pernah diberi tatapan sinis dari dalam kereta kuda ketika menyebarkan selebaran”

    “Ibuku saat menjadi asisten seorang bangsawan diperlakukan tidak adil hingga meninggal”

    Hening sejenak, aku mengitip anak-anak panti asuhan yang sedang mengobrol dari belakang pintu gereja. Disana, aku melihat wajah suram William yang tiba-tiba melebarkan senyuman.

    “Teman-teman masih ingatkah kalian pada ucapanku ketika ada bangsawan yang jahat?” ucap William dengan senyum yang masih mengembang.

    “LAWAN MEREKA!”

    “BUNUH MEREKA!”

    “ENYAHKAN BANGSAWAN JAHAT!”

    Keringat dingin mengucur deras di seluruh tubuhku. Kalau tidak ada orang jahat, negara ini akan menjadi negara yang ideal. Di dunia ini, orang biasa akan memilih mati dibanding melawan para bangsawan, tetapi dihadapan Tuhan, dia memutuskan untuk menempuh jalan iblis demi mencapai dunia yang adil. Aku berlari meninggalkan gereja. Hilanglah sudah rencanaku untuk bertemu dengan William. Ternyata dia sama bencinya sepertiku terhadap bangsawan, meskipun diriku sendiri adalah seorang bangsawan. Sejak dulu, aku muak dengan banyaknya pertemuan yang diadakan tapi hanya untuk mengumbar kekuasaan dan kekayaan, dan aku benci darah kotor bangsawan yang mengalir dalam diriku.

    “Apa yang anda ingin bicarakan?” tanya William.

Aku menelan ludah. “Enyahkan bangsawan jahat!”

William tersenyum dan tertawa kecil. “Ternyata kedengaran ya?”

    “Pernyataan yang sangat mengagumkan. Tapi, menjadi musuh para bangsawan, sama saja dengan melawan negara ini. Apa kamu akan bertarung dan melawan negara ini?” tanyaku dengan harap-harap cemas dengan jawaban William.

William menunduk, senyumnya kian mengembang. “Memang itulah tujuanku”

Mataku membulat sempurna. Ternyata betul apa yang dikatakan orang-orang. Anak ini… memiliki pemikiran yang sangat jauh dari umurnya.

    “Meski semua nyawa manusia punya nilai yang sama, meski semua orang punya hak yang sama untuk Bahagia, negara ini tidak seperti itu” sambungnya.

Ia menghela napas lalu melanjutkan ucapannya. “Sistem kalangan yang memberi kutukan pada orang lain, membuat hati manusia menjadi kotor dan keji, sehingga lahirlah iblis”

Ia menatap cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela gereja. “Berarti jelas sudah, kalau iblis tersebut lenyap, hati manusia akan kembali jernih dan kutukan itu pun akan hilang”

Ia menghadap kearahku dan tersenyum. “Negara ini pun akan menjadi sangat indah”

Aku terhenyak oleh semua pernyataan yang ia ucapkan, sampai rasanya kaki dan tanganku mati rasa.

    “Anda kan seorang bangsawan…”

    “Apakah anda mau melihatnya?”


Komentar