“Hei hei! tolong bacakan ini!”
Aku
menghentikan aktivitas menyiramku tatkala aku mendengar suara Judy menghampiriku
dengan sebuah buku.
“Ini buku
baru pemberian tuan Albert! Ayo kita baca bersama!” semangat Judy
“Iya kak
William, tolong bacakan ya!”
“Tolong
bacakan kak William!”
Aku menghela
napas. Baiklah, aku akan membacakan buku ini pada teman-temanku, karena di
panti asuhan ini, hanya aku dan adikku Louis yang bisa membaca dan menulis latin. Saat aku
asyik membacakan buku pada anak-anak panti asuhan, ekor mata ku menangkap sosok
yang tak jarang mampir ke panti asuhan ini. Aku melihat kereta kuda yang
memiliki lambang khas keluarga Alexander. Oh, sepertinya tuan Albert sedang
berkunjung lagi, ia hanya satu-satunya bangsawan yang mau meluangkan waktu dan
tenaganya untuk kegiatan amal untuk kaum seperti kami, tak jarang ia memberikan
kami buku, baju, dan makanan yang cukup untuk kami.
“Sepetinya
kau menikmati buku yang telah aku berikan William” ucap tuan Albert seraya
mendekat ke arah ku.
Aku
tersenyum simpul tuk menanggapi. “Terimakasih tuan albert, saya sangat senang ketika anda memberikan kami barang yang tidak sepatutnya kami miliki”
Tuan albert
pun tersenyum, tetapi aku menangkap sesuatu dalam matanya yang hendak ia
sampaikan kepadaku.
“William,
bisakah aku mengunjungimu nanti malam di gereja?” tanya tuan Albert.
Aku
mengangguk dengan hormat. Aku tidak keberatan. “Dengan senang hati tuan Albert”
…
Aku tiba di gereja panti asuhan dimana William berada, tetapi langkah ku berhenti saat hendak masuk kedalam gereja tatkala aku mendengar suara William dan anak-anak panti asuhan lainnya.
“Jadi, bangsawan itu orang yang hebat ya?”
“Iya, nenek moyang mereka bertarung demi memerdekakan negara kita” ujar William.
“Tapi, ada
juga bagsawan yang jahat”
“Iya, aku
pernah diberi tatapan sinis dari dalam kereta kuda ketika menyebarkan
selebaran”
“Ibuku saat
menjadi asisten seorang bangsawan diperlakukan tidak adil hingga meninggal”
Hening
sejenak, aku mengitip anak-anak panti asuhan yang sedang mengobrol dari
belakang pintu gereja. Disana, aku melihat wajah suram William yang tiba-tiba
melebarkan senyuman.
“Teman-teman
masih ingatkah kalian pada ucapanku ketika ada bangsawan yang jahat?” ucap
William dengan senyum yang masih mengembang.
“LAWAN
MEREKA!”
“BUNUH
MEREKA!”
“ENYAHKAN
BANGSAWAN JAHAT!”
Keringat
dingin mengucur deras di seluruh tubuhku. Kalau tidak ada orang jahat,
negara ini akan menjadi negara yang ideal. Di dunia ini, orang biasa akan
memilih mati dibanding melawan para bangsawan, tetapi dihadapan Tuhan, dia
memutuskan untuk menempuh jalan iblis demi mencapai dunia yang adil. Aku
berlari meninggalkan gereja. Hilanglah sudah rencanaku untuk bertemu dengan
William. Ternyata dia sama bencinya sepertiku terhadap bangsawan, meskipun
diriku sendiri adalah seorang bangsawan. Sejak dulu, aku muak dengan banyaknya
pertemuan yang diadakan tapi hanya untuk mengumbar kekuasaan dan kekayaan, dan
aku benci darah kotor bangsawan yang mengalir dalam diriku.
…
“Apa yang
anda ingin bicarakan?” tanya William.
Aku menelan
ludah. “Enyahkan bangsawan jahat!”
William
tersenyum dan tertawa kecil. “Ternyata kedengaran ya?”
“Pernyataan
yang sangat mengagumkan. Tapi, menjadi musuh para bangsawan, sama saja dengan
melawan negara ini. Apa kamu akan bertarung dan melawan negara ini?” tanyaku
dengan harap-harap cemas dengan jawaban William.
William
menunduk, senyumnya kian mengembang. “Memang itulah tujuanku”
Mataku
membulat sempurna. Ternyata betul apa yang dikatakan orang-orang. Anak ini…
memiliki pemikiran yang sangat jauh dari umurnya.
“Meski semua
nyawa manusia punya nilai yang sama, meski semua orang punya hak yang sama
untuk Bahagia, negara ini tidak seperti itu” sambungnya.
Ia menghela
napas lalu melanjutkan ucapannya. “Sistem kalangan yang memberi kutukan pada
orang lain, membuat hati manusia menjadi kotor dan keji, sehingga lahirlah
iblis”
Ia menatap cahaya matahari pagi yang masuk dari jendela gereja.
“Berarti jelas sudah, kalau iblis tersebut lenyap, hati manusia akan kembali
jernih dan kutukan itu pun akan hilang”
Ia menghadap
kearahku dan tersenyum. “Negara ini pun akan menjadi sangat indah”
Aku
terhenyak oleh semua pernyataan yang ia ucapkan, sampai rasanya kaki dan
tanganku mati rasa.
“Anda kan
seorang bangsawan…”
“Apakah
anda mau melihatnya?”

Komentar
Posting Komentar