Di SMA Negeri Pertiwi, hiduplah seorang siswa Bernama Risa. Ia dikenal dengan kepandaiannya dalam menari tarian modern, mulai dari Hip-Hop, K-pop choregraphy hingga Balet. Di setiap acara pentas seni di sekolah, Risa selalu menampilkan bakatnya dalam menari tarian modern, dari ekspresi yang mendalam dan Gerakan-gerakan sulit dan energik sehingga membuat beberapa temannya kagum.
“Wah! Kamu
keren banget Risa! Dance K-pop tadi sangat susah untukku, tapi kamu bisa
melakukannya dengan baik!” puji Naura.
Risa
tersenyum, napasnya masih tersengal dan wajahnya memerah sehabis melakukan dance
tadi sekaligus oleh pujian Naura. “Terimakasih, kau juga sangat keren dengan Tarian
Saman mu tadi.”
“Ah, itu
tidak apa-apa dibanding penampilanmu,” tukas Naura.
Tiba-tiba,
salah satu teman sekelas Risa Bernama Rafa, menghampiri Risa, “Risa, kau
dipanggil oleh Bu Sri untuk menemui beliau di kantor.”
Baik Risa
maupun Naura menjadi penasaran dengan pemanggilan dadakan oleh Bu Sri. “Memangnya
ada apa beliau memanggilku?” tanya Risa.
Rafa
mengedikkan bahunya. “Entahlah, aku tak tahu, ayo cepat! kau dipanggil sekarang
juga!”
Risa segera
menuju kantor guru untuk menemui Bu Sri. Kantor guru siang itu lengang hanya
menyisakan beberapa guru didalam kantor. Risa segera menuju meja ibu Sri dimana
beliau sedang duduk dengan tenang dengan kertas laporan yang menumpuk.
“Permisi Bu,
Ibu memanggil saya ya?”
Bu Sri
menoleh dan tersenyum, “Oh Risa, benar sekali. Ibu mempunyai kabar untukmu,” Bu
Sri mencari sesuatu diantara tumpukan kertas bak gunung semeru itu. Risa
semakin bertanya-tanya tentang kabar apa yang hendak disampaikan.
Tak lama
kemudian, Bu Sri menemukan selembar poster dan memberikannya kepada Risa. “Itu
Adalah kompetisi menari tahun depan, Ibu yakin kau bisa melakukanya,” ujar Bu
Sri semangat.
Tetapi,
wajah Risa telah menumpahkan isi hatinya sebelum ia mengatakannya. Itu Adalah
kompetisi menari yang Dimana peserta menampilkan tari tradisional. Bagi
Risa, tari tradisional adalah hal yang sangat kuno dan tidak keren.
“Bu, tari traditional
itu kuno. Tidak keren. Teman-teman pasti menertawakan saya,” katanya dengan
wajah ragu.
Bu Sri
tersenyum. Mengerti akan posisi Risa, “Baiklah, coba kau pikirkan terlebih
dahulu, jika kau siap, segera beritahu kepada ibu,” ucap ibu Sri memberi jalan
Tengah.
…
Setelah
turun dari kereta KRL, Risa berjalan kaki menuju rumahnya yang tak jauh dari
stasiun kereta. Disana ia melihat melihat bibinya yang sedang mengajar tarian tradisional
pada anak-anak.
“Oh, Risa,
selamat datang, bantulah Bibi sebentar,” ajak Bibi.
Risa
menggeleng, “Risa lelah Bi, aku ingin ke kamar dulu.”
“Baiklah,
selamat istirahat,” ucap Bibi.
Risa menaiki
anak tangga menuju kamarnya lalu menghempaskan diri di atas Kasur. Hari yang
Panjang.
Ia mengambil
foto ibunya yang terbalut cantik dengan kebaya yang dikenakannya untuk menari. Apakah
aku sebenci itu dengan tari tradisional? Semenjak Ibunya meninggal
saat ia masih berumur dua bulan, ia tak pernah tahu wajah Ibunya. Tetapi,
Bibinya selalu mengenalkannya pada Ibunya melalui berbagai
peninggalan-peninggalan seperti baju, foto, dan lain-lain. Tetapi nahas, nasib
berkata lain. Ibunya meninggal dalam erupsi gunung Agung saat ibunya sedang
melakukan pertunjukan. Sejak itulah, ia tidak terlalu menyukai hal-hal yang
berbau tradisional. Terutama menari.
…
Sore itu di
aula sekolah, Risa sedang berlatih menari untuk lomba k-pop dance bulan depan.
Apakah ia menerima tawaran tarian traditional dari Bu Sri?. Ia bahkan meninggalkan
poster tarian traditional itu di atas meja belajarnya.
Saat ia
sedang fokus untuk berlatih, seorang guru memperhatikannya dari jauh
lalu menghampirinya. “Ibu suka dengan cara menarimu”
Jantungnya
hampir copot dengan kedatangan Guru yang tiba-tiba. “Eh, terimakasih Bu,”
ucapnya sambil tersengal.
Guru tersebut
tersenyum, “Saya menyukai gerakanmu tadi, sepertinya kau sangat berbakat ya?”
tanyanya dengan antusias.
Risa tersipu
lalu mengangguk. “Benar Bu, saya menyukai dance K-pop”
“Wah, sangat
keren! Mempunyai murid seperti kamu bisa menari dengan sangat lihai dan energik,”
jawab Guru.
“Tapi,
apakah kamu bisa melakukan tari tradisional?” tanya Guru tersebut.
Pertanyaan
yang sangat Risa hindari. “Maaf Bu, tapi saya tidak bisa melakukan tari tradisional,”
ucap Risa jujur.
Guru
tersebut tertawa kecil. “Benarkah? Tapi apakah kamu tertarik dengan tarian tradisional?”
Risa
menggeleng. “Tidak Bu, menurut saya tarian tradisional itu sangat susah dan
kuno, tidak pantas untuk zaman modern seperti sekarang.”
Namun
gurunya tidak menyerah. Gurunya pun melakukan sebuah tarian yang sangat indah
bagi Risa. Guru tersebut menari dengan sangat lihai dan sangat mendalami makna
dalam tarian tersebut. Risa pun terpukau dibuatnya.
“Ini adalah
salah satu tarian yang sangat berharga, Risa. jika tidak, maka lebih dari 100
tarian di negara kita kan punah.”
…
Setelah bertemu
dengan guru seni baru disekolahnya kemarin, Risa mendaftarkan diri untuk
mengikuti lomba menari tradisional itu. Nama Guru itu adalah Maheswari. Guru
itu lembut, sabar, dan selalu memberi motivasi pada Risa untuk terus menjiwai
tarian tersebut.
Setiap sore,
Risa berlatih bersamanya di aula. Aneh, tak ada murid lain yang pernah melihat
guru itu, tapi Risa tidak terlalu memikirkan hal tersebut. Yang penting, setiap
kali ia berlatih, perasaan ragu dalam dirinya perlahan berubah menjadi
semangat.
“Risa! Kau
hendak kemana?” tanya Naura sepulang sekolah. Ia dan Rafa hendak mengajaknya ke
sebuah toko buku.
Risa
membereskan barang-barangnya kedalam tas dengan semangat. “Aku akan Latihan
menari dengan Ibu guru Maheswari,” ucapnya dengan riang.
Naura dan
Rafa bertatap satu sama lain. Seorang Guru seni Bernama Maheswari? “Aku tak
pernah mengenal guru tersebut,” tukas Rafa.
“Guru
tersebut adalah guru seni baru di sekolah kita, beliau sedang berlatih
Bersamaku akhir-akhir ini.” Ia pun meninggalkan Naura dan Rafa dengan
pertanyaan di benak mereka.
…
Hari
perlombaan tiba. Dengan bimbingan yang ia terima selama berlatih, Risa menari
penuh percaya diri. Penonton terpukau, juri terharu, dan sekolahnya bangga
karena berhasil meraih juara pertama.
Usai
menerima piala, Risa mencari guru seni yang selalu menemaninya berlatih. Namun
panitia dan teman-temannya justru kebingungan. “Guru seni? Tidak ada pendamping
selain Bu Sri,” jawab mereka.
Risa
terdiam. Perlahan ia sadar, sosok yang selama ini mendampinginya bukanlah guru
biasa, melainkan seseorang yang mirip dengan ibunya sendiri yaitu Ratna
Maheswari.
“Hei Risa!
Kau hendak kemana?” teriak Bu Sri, bingung dengan ekspresi wajah Risa yang
tiba-tiba pucat.
Risa tak
peduli. Ia bergegas mengambil barang-barangnya, lalu menuju stasiun KRL, dan
menumpang angkot untuk ke rumahnya. Ia pun mencari keseluruh inci kamarnya
untuk mencari hal yang selalu ingin ia pastikan sejak berlatih menari dengan Bu
Maheswari. Ia mengambil foto ibunya yang jatuh di kolong kasurnya, ia menatap
lamat-lamat foto itu. Tampak dalam foto tersebut Ibunya yang seorang penari.
Air mata menetes di pipinya. Sejenak, tangannya merasakan sesuatu yang janggal
di belakang bingkai foto Ibunya. Saat ia membuka bingkai foto tersebut,
terdapat sebuah surat. Ia membacanya.
Anakku
tersayang,
Jika
suatu hari Ibu tiada lagi, bacalah surat ini dengan hati yang tenang.
Ibu hanya meninggalkan satu pesan, satu harapan yang paling dalam:
jagalah tarian tradisional kita.
Tarian
itu adalah warisan dari leluhur, doa yang bergerak di setiap lenggok, dan kisah
hidup yang terukir di setiap irama. Ibu ingin engkau merawatnya, bukan hanya
dengan langkah kakimu, tapi juga dengan hatimu.
Ajarkanlah
pada temanmu, pada anak-anakmu kelak, agar tarian ini tidak berhenti bersamamu.
Ingatlah, setiap kali engkau menari, Ibu ada di sana, ikut menari bersamamu
dalam doa.
Nak,
cintailah budaya kita sebagaimana engkau mencintai Ibu.
Karena selama tarian itu hidup, namamu, namaku, dan nama leluhur kita akan
tetap ada.”
Dengan
cinta,
Ibumu
Air mata
mengalir dari pipinya. Ia berjanji, tarian tradisional itu tidak akan lagi ia
lupakan. Ia akan menjaganya sebagai warisan berharga, sekaligus kenangan
terindah dari ibunya.

Komentar
Posting Komentar