Dunia Dalam Kamera


“Sudah berapa kali Umi’ katakan Yashinta!” suara Umi’ menggelegar memecahkan ruang tengah yang lengang menuju dapur dimana aktivitas memasak gula arenku terhenti.

“Abah kau bukan lah seorang pejabat!, sudah berapa kali Umi’ ingatkan bahwa kau harus hemat!”

    Aku tertunduk. Menghela napas. Sangat sulit untuk anak kampung seperti ku yang (beruntungnya) melanjutkan sekolah SMP di provinsi dengan modal ‘beasiswa’ 50%–itu pun aku harus mengikat perutku demi hal-hal diluar kebutuhanku.

“Kau kira uang bisa dipetik dari pohon alpukat, hah?!, kau sangatlah egois Yashinta. Apakah kau tak melihat betapa susahnya keluarga kita?!” sura Umi’ kian meninggi.

    Bersamaan dengan suara 8 octaf Umi’, pintu rumah terbuka dengan Abah yang habis dari kebun jagung Bersama 2 adik nakalku—Alfatih (panggil saja “Al”) dan Ghazi. 2 tupai nakal itu terlihat menertawakanku dibalik gelapnya rumah yang hanya diterangi oleh lampu petromax. Mereka selau senang jika aku terkena masalah.

“Ada apa Sri?” tanya Abah.

Umi’ dengan sisa sebal diwajahnya, menjawab. “Aku tak habis pikir dengan uang yang menghilang sebegitu cepatnya”.

“Oi, uang saku Yashinta?” tanya Abah, terlihat terkejut. Umi’ mengangguk.

    Abah menghela napas pelan. Sejujurnya Abah tak pernah membahas soal finansial didepan kami. Apalah daya anak pertama seperti aku, tahu segala hal permasalahan di keluarga. Abah mendekat dan duduk dihadapan ku.

“Yashita, berhematlah sedikit ya? Sisa uang panen jagung akan bapak gunakan untuk membeli buku adik-adik kau di pasar loak” ucap Abah lembut.

Tak ada jawaban selain mengangguk. Baiklah. Aku akan turunkah egoku sedikit, meski hati macam mau meledak bak gunung Merapi.

    Selepas sholat isya’ dan makan malam, hujan menyirami kampung kami. Kampung kami yang sangat asri. Tak ada alat-alat berat yang mengeduk pasir kami, tak ada bangunan-bangunan tinggi merobek langit, tak ada gawai atau elektronik canggih yang bisa kami pakai (kecuali TV hitam putih aki milik Abah). Semua serba tradisional.

    Hujan menyirami seluruh kampung kami dengan lembut. Katak-katak bernyanyian, daun-daun bergoyang sebab air hujan, Sungai kian menderas dan banyak sekali belalang. Aku mengambil gentong air yang besarnya dua kali lipat dibanding tubuhku, lalu mengadahnya pada langit yang senang hati mengisi gentong airku. Sebagian dari air terbebut, ku gunakan untuk mencuci piring makan malam kami. Tetapi bayang-bayang Umi’ yang memarahiku sore tadi masih membekas.

    Hujan masih tetap deras, dan secara tidak sadar aku membiarkan wajahku terkena air hujan yang menusuk wajahku. Hati ku terasa kosong dengan pikiranku yang ramai bak kota Jakarta.

    Ya Allah… apakah di dunia ini harus begitu mahal?. Berobat butuh uang, makan butuh uang, sekolah pun butuh uang. Bagaimana dengan para pejabat yang menghambur-hamburkan uangnya? Atau anak-anak kaya yang bersekolah hanya untuk formalitas dan gengsi tanpa mendapatkan ilmu sedikitpun?.

    Aku menyelesaikan aktivitas mencuci piringku lalu masuk kedalam rumah. Umi’ Tengah membuat keranjang rotan, Abah berada di teras rumah dengan kopi yang selalu menemani. Al dan Ghazi? Entahlah, aku tak peduli apa yang 2 tupai nakal itu kerjakan. Aku melangkah menuju Umi’ yang sibuk membelit-belit rotan.

“Yashinta selesai mencuci piringnya Umi” ucapku.

Umi’ hanya melihatku sekilas dan mengangguk. “Bagus, suruh adik-adik kau segera tidur, besok mereka sekolah”

Aku mengangguk lalu menuju 2 tupai nakal yang—entah sibuk melakuakn apa.

“Hei, ayo tidur, sudah pukul 9, kalian harus sekolah besok” ucapku mencoba lembut.

Al menolehku dengan tatapan tak suka. “Memangnya kakak tak sekolah?”

Aku memutar bola mataku. Liburan ku masih 2 minggu lagi. “Sudahlah, cepat masuk kamar!” ucapku tegas.

    2 tupai itu melangkah masygul menuju kamar. Misi terselesaikan. Aku mengambil wudhu terlebih dahulu sebelum bergabung dengan adik-adikku. Mataku tak sengaja tertuju pada kamera digital di atas nakas. Ah, kamera itu. Ini adalah satu-satunya barang canggih dan berharga di rumah kami. Mengapa begitu? Karena disinilah mimpi ku mulai bertumbuh.

Jakarta, 1999

    Kota Jakarta dengan ramainya yang sangat khas. Aku mendorong gerobak berisi jagung, kentang, wortel dan alpukat hasil panen kebun kami. Hari itu, aku pergi Bersama Abah ke kota Jakarta untuk berdangan, jarang sekali Abah berdagang di kota sebesar ini (karena pasti akan menolak). Kami samapi pada salah satu pasar terramai di Jakarta. Aku dan Abah bergegas menyiapkan untuk berdagang. Tak lama kemudian, seorang makhluk asing yang tak pernah ku jumpai di bumi ini mendekat ke arah dagangan kami.

“Excuse me, how much does the avocado cost?”  tanya orang itu yang nantinya aku tahu bahwa ia Adalah orang Skotlandia.

“It cost, 5 thousand rupiah” jawab Abah dengan lancar. Mendengar abah menggunakan Bahasa asing membuatku sangat terkejut. Sejak kapan Abah bisa berbahasa orang-orang barat?.

Orang itu tersenyum dan melakukan jual beli dengan ramah Bersama abah.

“You’re English is really fluent, have you ever went abroad before?”

Abah mengangguk. “Yes, I’ve ever went voyaging with the Dutch ship”

Terus seperti itu, aku tak mengerti apa yang mereka bicarakan. Hingga Bule itu menoleh pada ku yang sedari tadi menatapnya penuh penasaran dibalik sarung Abah.

“Is she your daughter?” orang itu bertanya dan tersenyum kearahku. Pipi ku merona, betapa cantiknya Wanita di depanku ini.

Abah mendorong ku yang sembunyi di balik sarungnya. “meet my daughter Yashinta”

“Hello Yashita, I’m Michele”.

Itu lah pertemuanku Bersama Michele. Bule yang selalu membuatku ‘membolos’ berdagang dan lebih memilih untuk mendengarkan celotehan menarik dari Michele. Ia Adalah seorang scientist dari National Geographic yang kebetulan melakukan sebuah penelitian di pulau ku, Sumatra. Ia senang sekali memberiku pengetahuan baru, tak jarang ia meminjamkan kameranya yang sangat canggih.

“Yashinta, the world is full of many knowledges that we haven’t know, you might wanna find a tree that lived million years” ucap Michele seraya tersenyum ke arahku.

 Kami telah pulang dari Jakarta seminggu yang lalu, Abah dengan senang hati membantu Michele dan krunya untuk melakukan penelitian di pulau kami. Aku dan Michele sedang berada di hutan paling jauh dari kampung kami, sejak pagi aku meminta izin pada Abah yang khawatir jika aku merepotkan Michele dan krunya. Michele dengan senag hati mengizinkan ku tuk ikut bersamanya.

“You see that bird?” Michele menunjuk seekor burung yang berada di atas pohon jati. Aku mengangguk. Itu burung pipit.

“That bird is very interesting. It even have different kinds of types but still the same species, and now I’m seeing another one, just like the Darwin’s theory” sambungnya. Ia mengadah kameranya yang canggih menuju burung itu. Berhasil!. Terfoto sempurna.

Michele menatapku dengan arti yang sangat dalam. “I know you’re just a poor kid that lives in a village with no afforded education. But, I have a feeling that you’ll be a big star one day”

Michele menyodorkan kamera canggihnya pada ku. Apakah ini mimpi?

“It’s a gift from me, for how curious you are about the world. If you wanna know better, just look at the photo’s that I picked before and you’ll see different side of the world”.

Trinity College, Cambridge, England—2016

“Kau pasti tak bisa memakan rebus buatan Umi’ disana!” ucap Umi’ diseberang telpon.

Aku tertawa. Aku merindukan rebung rebus buatan Umi’. Aku hanya bisa memakan mashed potatoes atau roti yang bisa mengganjal perutku. Angin memainkan rambutku dengan lembut. Musim semi yang menyenangkan. Aku berada di pekarangan Sungai Cam. Banyak mahasiswa sedang melakukan punting menuju kampus masing-masing dan pula bebek yang berlalu lalang meminta roti yang kumakan sejak tadi. Kamera pemberian Michele sangat berguna hingga sekarang dan tak hanya foto-foto dahulu tetapi hingga sekarang.

Michele benar. Dunia ini sangatlah luas, terlepas dari banyaknya rintangan, jika kita menjalaninya dengan Ikhlas dan gigih, kita pasti akan mencapainya.

Jadi, apalagi sekarang?

 


Komentar